Emas Minggir! Ini Giliran Bitcoin yang Bersinar Terang

Emas Minggir! Ini Giliran Bitcoin yang Bersinar Terang



Harga Bitcoin kemarin meroket ke atas US$ 20.000/BTC dan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Tetapi, umur rekor tersebut singkat, hari ini harga mata uang kripto ini kembali melesat tinggi.

Melansir data Refinitiv, pada pukul 10:19 WIB, bitcoin diperdagangkan di kisaran US$ 22.081,49/BTC, melesat 4,09%, melanjutkan kenaikan 9,21%. Artinya hanya dalam kurang dari 2 kali 24 jam bitcon meroket lebih dari 13%.

Dianggap sebagai emas digital, pemicu kenaikan bitcoin sama dengan kenaikan emas kemarin, yakni pengumuman kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed).

Penggerak bitcoin boleh sama dengan emas, tetapi kinerjanya jauh berbeda. Emas memang sudah mencetak rekor tertinggi sepanjang masa US$ 2.072,49/troy ons, tetapi setelahnya harga emas menurun, sebaliknya bitcoin terus melesat.

Alhasil sepanjang tahun ini emas membukukan penguatan "hanya" 23%, sementara bitcoin meroket lebih dari 200%. Melihat dari return tersebut, bitcoin tentu jauh lebih menarik dibandingkan emas. Apalagi, berdasarkan survei JP Morgan, millennial lebih memilih bitcoin ketimbang emas. Dan patut diingat, ke depannya para millennial inilah yang akan mendominasi pasar finansial.

Seperti disebutkan sebelumnnya, The Fed menjadi pemicu kenaikan bitcoin. Dalam pengumuman kebijakan moneter Kamis dini hari WIB, bank sentral pimpinan Jerome Powell tersebut berkomitmen untuk menjalankan program pembelian aset (quantitative easing/QE) sampai pasar tenaga kerja AS kembali mencapai full employment dan inflasi konsisten di atas 2%.

Artinya kebijakan moneter ultra longgar masih akan dipertahankan dalam waktu yang lama.

The Fed memberikan proyeksi inflasi yang dilihat dari belanja konsumsi personal (personal consumption expenditure/PCE) di tahun ini sebesar 1,2%, kemudian di tahun depan 1,8%. Artinya masih belum mencapai target di atas 2%, sehingga pada tahun depan kebijakan moneter yang diterapkan masih ultra longgar.

CNBC